Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2013

Percakapan Di Cafetaria

Secangkir kopi untuk berdua
Rokok pun kita bagi sama rata
Tatap mata bertemu kebetulan
Dalam bayang-bayang gelap rembulan


Tiba-tiba waktu kau teriak:
"Anjing kau!"
Lain waktu kau malah berucap:
"Aku cinta kau..."


Kita tak benar-benar larut dalam secangkir kopi
Tapi kita selalu hirup asap rokok yang sama
Kita pun pernah terjebak dalam sepi
Dan juga terkurung dalam rindu yang fana

Dibalik bisik-bisik rumpi meja sebelahSayup kudengar igauanmu bertanya:
"Siapa kau?"

Surabaya, 27 Juli 2013

Sabtu, 08 Juni 2013

Aku Masih Percaya Pada Puisi


Untuk Neruda dan Seorang Wanita

Aku masih percaya pada puisi
Bahwasanya puisi bisa menggetarkan hati
Meluluhkan perasaan seorang wanita
Bahwasanya puisi bisa menggerakkan rakyat
Membakarkan api revolusi

Aku pun masih percaya pada cinta
Cinta yang timbul dari curian tatapan mata
Yang muncul bersama kebetulan-kebetulan indah
Seperti halnya aku percaya pada revolusi
Entah itu revolusi soal negara, cinta atau cerita-cerita derita

Aku percaya kalau kita ditakdirkan bersama
Takdir yang luruh dalam puisi-puisi Neruda

Cimone, Juni 2013

Puisi Pada Berita Koran

Siswa Mengadu Ujian Nasional ke Presiden
Kompas | No 282 Tahun ke 48 | Selasa 16 April 2013

Gadis Manis di Peron Seberang


Matahari terik, hari minggu
Kereta tujuan serpong baru saja lewat
Aku tertinggal tapi mataku tertuju pada satu
Ada gadis manis di peron seberang

Kerikil bergesek dinyala debu beterbangan
Seorang lelaki menyapu sampah dengan seenaknya
Dan tawaran semir sepatu dari lelaki kecil manis
Asap rokok memerahkan mata
Mataku tertuju pada gadis itu

Masih menunduk ia menatap telepon genggamnya
Aku merasakan tatapannya ketika kepalanya mengangkat
Tatap mata beradu silang diatas rel yang terbakar terik matahari siang ini
Lalu kereta tujuan Tanah Abang melewati
Dan dia hilang

Palmerah, Februari 2013

Aku Tunggu Kau Dibawah Jembatan Penyeberangan Kebon Nanas


Duduk diam sendiri aku di kaki jembatan penyeberangan
Menghirup asap rokokku sendiri yang bercampur asap kendaran lalu lalang tak ada habisnya
Menghirup pula bau parfum murah yang dipakai perempuan-perempuan buruh pabrik yang hendak bertamasya
Menghirup bau keringat penjual koran pagi yang berikan potongan setengah harga saat hari sudah petang

Masih duduk aku sendiri di kaki jembatan penyeberangan ini
Menyeduh susu jahe sambil dengarkan celotehan politik oleh pedagang asongan
Seru-seruan tukang ojek memanggil-manggil penumpang seraya menawarkan jasa antar untuk penumpang yang baru turun bus dari merak

Aku masih menunggumu di kaki jembatan penyeberangan ketika gerimis turun di bulan desember.


Tangerang, Desember 2012