Tampilkan postingan dengan label flash. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2014

Tentang Burhan dan Negara Kaya

Ketika masih duduk di SD Siang Malam Genjot Terus, seringkali Burham mendengar dari Bapak dan Ibu Guru yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara kaya. Ilustrasinya begini, Indonesia adalah negara dengan luas hampir 2 juta kilometer persegi maka logikanya dengan luas sedemikan rupa banyak kekayaan yang terkandung di dalamnya. Dengan logika seperti itu, kekayaan yang dimaksud berasal dari sumber daya alam, baik berupa hasil laut, pertanian, perkebunan hingga minyak dan gas. Ditambah dengan posisi geografis Indoesia dan jumlah populasi mendekati 250 juta jiwa maka potensi kekayaan tersebut dapat terkelola dengan baik. Kira-kira logika bapak dan ibu guru Burhan di sekolah dasar yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara kaya dibangun seperti itu, Burhan manggut-manggut tanda mengerti. Guru-guru di SD Siang Malam Genjot Terus memang melulu mengajar konsep dasar, seperti 4x6 adalah berbeda dengan 6x4.
Ketika sudah memasuki sekolah menengah pertama, Burhan bersekolah di SMP Negeri Diatas Awan. Teori yang pernah menyebutkan indonesia sebagai negara kaya dipertanyakan oleh Burhan kembali. Sebenarnya guru-guru di sekolah menengah pertama tersebut ingin menekankan kembali bahwa Indonesia adalah negara kaya namun Burhan adalah seorang anak dengan penuh rasa penasaran. Baginya sebuah negara disebut kaya tentu diukur dari kekayaannya, sederhananya demikian. Pasalnya, ia teringat ketika anak-anak lain sudah menggunakan handphone sedang Burhan belum memilikinya, teman-teman Burhan tersebut mempertanyakan apakah Burhan anak orang kaya atau tidak sebenarnya. Ibu guru di sekolah Burhan mencoba menjelaskan kepada Burhan, menarik lurus keatas secara definisi terlebih dahulu, kekayaan negara Indonesia merupakan ruang lingkup keuangan negara artinya semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Burhan bingung, dan bertanya:
“Kalau begitu apa saja yang termasuk hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang tersebut?”
“Kita lihat dari tiga sisi Burhan; dari sisi obyek, subyek dan tujuannya. Dari sisi obyek yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dari sisi subyek yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi seluruh obyek sebagaimana tersebut di atas yang dimiliki negara, dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perusahaan Negara/Daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara. Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban. Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan obyek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.”
“Bu, kan ada disebutkan kalau bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai negara, berarti termasuk dong bu?”
“Kan saya bilang yang dimiliki, dan/atau dikuasai oleh negara juga, berarti termasuk dong! nyimak gak sih?”
“Bu, ibu ngomongnya ribet sih, jadi kalau kekayaan negara meliputi apa saja bu?”
“Ya sederhananya sih mencakup segala sesuatunya baik berbentuk uang maupun barang, yang berwujud atau tidak baik bergerak atau tidak bergerak yang dimiliki, dikuasai serta kekayaan negara yang dipisahkan”
“Kok ada yang dipisahkan bu? Kenapa mereka harus berpisah bu? Apakah tidak ada lagi kecocokan diantara mereka?” Burhan mulai menitikkan air mata.
“Suatu saat kamu akan mengerti Burhan, mungkin ketika kamu lebih dewasa” ucap Ibu Guru sambil mencoba menenangkan Burhan.
***
Berhubung Burhan adalah anak yang nakal dan terlalu banyak menghisap lem aibon, ia masuk ke sekolah menengah atas yang tidak favorit. Dengan nilai ujian nasional yang semenjana, Burhan hanya bisa tembus di SMA CP NEH, SMA AQ AJA DECH. Masa-masa SMA memang penuh masa-masa cinta, seperti halnya Burhan yang mulai jatuh cinta dengan seorang gadis, Sheila namanya. Kisah cinta Burhan rupanya mirip-mirip dengan FTV, Sheila justru berpacaran dengan Amir, apalah daya cinta memang tak harus memiliki, pikir Burhan begitu. Ngomong-ngomong soal memiliki, Burhan masih bingung dengan konsep memiliki, menguasai atau bahkan memisahkan. Ia pun kembali bertanya dengan bapak guru di sekolahnya.
“Kalau memiliki itu misalkan Barang Milik Negara, artinya adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Perolehan lain yang sah itu dapat meliputi yang diperoleh dari hibah, berdasarkan perjanjian, berdasarkan ketentuan perundang-undangan maupun dari putusan pengadilan. Sederhananya adalah semua barang yang dibeli sendiri dan/atau yang kepemilikannya atas nama negara”
“Berarti seandainya cinta saya memiliki Stella, hanya apabila secara sah ya pak. Kalau menguasai dan juga memisahkan itu yang seperti apa pak?”
“Ya menguasai itu seperti halnya bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu dikuasai negara, berbeda secara konsep dengan memiliki, dalam hal legitimasi kepemilikan kira-kira” bapak guru yang sudah mulai bosan menjawab pertanyaan burhan terdiam sejenak, membakar rokok lalu melanjutkan kembali.
“Sedangkan memisahkan bisa kita ambil contoh kekayaan negara yang dipisahkan adalah kekayaan negara yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk dijadikan penyertaan modal negara pada Persero dan/atau Perum serta perseroan terbatas lainnya. Karena sudah dipisahkan pengelolaannya serta pertanggungjawabannya secara teknis pun berbeda, lebih kearah korporasi.”
Berbekal tambahan pengetahuan yang lumayan, Burhan memberanikan diri untuk berbincang kembali dengan ibu Gurunya di SMP Negeri Diatas Awan. Ia sudah mengerti perkara kekayaan yang dimiliki, dikuasai serta dipisahkan. Burhan menjelaskan, kekayaan adalah aset dalam bahasa lainnya.
“Jadi bu kalau kita berbicara tentang kekayaan maka kita bicara tentang aset sesungguhnya. Aset itu adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.” 
“Kalau gitu Burhan, dulu kamu bertanya pada Ibu apakah negara kita adalah negara kaya, bagaimana menurutmu sekarang”
Burhan terdiam, sungguh pun ia tak tahu jawaban atas pertanyaan ibu gurunya tersebut. Burhan tidak benar-benar tahun kekayaan negaranya sehingga ia pun tak berani mengatakan apakah negaranya kaya atau tidak kaya.
“Tapi bu, lihatlah tahun 2013 saja, Barang Milik Negara ini yang sudah tercatat nilainya 1.816 triliun bu, angka yang besar bukan? Misalkan kita lihat dari sisi aset pemerintah pusat saja bu, yang itu meliputi aset tetap, aset lancar, aset lainnya termasuk investasi dan piutang sudah mencapai 3.567 triliun di tahun 2013 bu”
“Bagaimana dengan yang kamu sebut kekayaan yang dipisahkan tadi?”
“Wah itu tidak kalah banyak, bisa mencapai 1.218 triliun, di tahun 2013 juga bu”
“Kalau nilai kekayaan yang terkandung dalam bumi, misalkan laut dan segala macamnya yang mana termasuk kekayaan yang dikuasai oleh negara?”
“Itu... itu saya belum tahu bu?” Burhan mulai gelagapan mennjawab pertanyaan ibu gurunya.
“Jadi sekarang, ibu bertanya lagi, apakah negara kita adalah negara kaya?”
“Saya tidak tahu bu”


Pontianak, 26 September 2014

Minggu, 25 Mei 2014

Akhirnya Masuk (Kardus) Televisi


Sabtu, 15 Oktober 2011 pukul 23.41. Sudah terlalu malam bagi seorang wanita untuk berjalan sendirian. Tak ada yang benar-benar aman di kota ini, setiap sudutnya menyimpan bahaya yang siap meledak kapan saja dan untuk siapa saja, terlebih lagi untuk seorang wanita yang selalu menjadi sasaran empuk tindakan kriminal. Terlalu riskan membiarkan wanita berjalan sendirian di kota yang penuh bahaya pada waktu menjelang tengah malam, di Jakarta.
***
Sedari duduk di bangku sekolah dasar hingga saat ini, Kanya, gadis 21 tahun lulusan SMA ini tak pernah membuang mimpinya menjadi artis, selebriti yang selalu tampil dengan pesona keanggunan dan hari-harinya diikuti oleh sorotan kamera televisi, ya Kanya selalu ingin masuk televisi. Hingga pada akhirnya 3 tahun yang lalu Kanya datang ke Jakarta untuk menggapai mimpinya. Semua tahu, Jakarta tak pernah berhenti menawarkan mimpi, Jakarta tak pernah mau berhenti membuai orang-orang dengan segala fantasi, termasuk Kanya. Fantasi yang disuguhkan lewat televisi.
Hidup tak selamanya semudah yang diharapkan, terkadang atau bahkan seringkali justru apa yang kita coba untuk hindarilah yang menjadi kenyataan atau apa yang selalu kita inginkan malah tidak menjadi kenyataan. Segala mimpi dan fantasi yang menyesakkan dada Kanya membuatnya tak kuasa melihat kenyataan yang harus ia hadapi. Tak semudah itu menjadi artis, ia selalu gagal dalam beberapa audisi pemain sinetron yang dicobanya. Bukannya Kanya tak menarik fisiknya, tapi masih banyak wanita yang lebih menarik di kota berpenduduk lebih dari 9 juta jiwa ini.
Kanya tak sendirian, banyak juga yang menjalani hidup sepertinya, mencoba mengadu peruntungan di Jakarta namun tak kesampaian hingga akhirnya hidup dalam jepitan kemiskinan. Kanya hidup dalam jepitan itu. Ia tinggal di kamar kost yang ukurannya nyaris seperti sempitnya kuburan, hidupnya kini bergantung sepenuhnya dari penghasilannya sebagai buruh di pabrik tekstil di utara Jakarta, orang tuanya tak sanggup lagi membiayai uang bulanannya. Namun ada yang selalu dipegang teguh oleh Kanya, ia bukan wanita murahan, Kanya takkan menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang yang jauh lebih banyak dari pendapatannya sekarang, 35 ribu rupiah dalam sehari. Uang yang cukup membuatnya makan sehari dan menyisakan ongkos berangkat audisi. Ah Kanya juga tak pernah lupa akan mimpinya menjadi selebriti.
Setiap sabtu atau terkadang pula hari minggu, Kanya tetap mencoba terus peruntungannya dalam audisi pemain sinteron kelas teri. Bermodal pakaian terbaiknya dan diantar oleh tukang ojek langganannya, si Udin. Si Udin, nama aslinya Fakhrudin, selalu menyediakan waktunya di sabtu siang untuk menunggu, menjemput, lalu mengantar Kanya hingga ke tempat audisinya, tentu mengantar kembali Kanya pulang ke kost-kostannya. Udin selalu tahu, Kanya takkan lolos dalam audisi tersebut, ia dengan senantiasa menunggu Kanya selesai audisi sambil menonton televisi di warung kopi terdekat dan membayangkan Kanya beneran masuk televisi nantinya sebagai selebriti. Udin setia menunggu Kanya bahkan hingga hari telah larut. Barangkali Udin memendam cinta pada Kanya.
Udin tak sendiri mencintai Kanya, tentu banyak pemuda-pemuda tanggung seperti Udin atau bahkan lelaki-leaki genit yang juga jatuh hatinya pada Kanya, namun apa daya cinta tak lekas bersambut. Kanya itu cantik dan menarik, sopan pula tingkah lakunya. Sedangkan Udin, wajahnya jauh dari rupawan, kelakuannya pun tak pula bisa dikatakan baik. Udin hanya bermodal cinta dan nekat untuk mendekati Kanya. Setidaknya Udin siap mempertaruhkan segalanya demi Kanya.
“Lu gagal lagi ya?” Tanya Udin pada Kanya yang menghampirinya dari tempat audisi dengan muka murung. Sudah beribu kali Udin menanyakan hal yang sama dan jawabannya pun selalu sama. Udin sudah memahami itu.
“Iya bang, yang audisi itu gak becus, gak professional!”
“Sabar neng, kali aja sekarang bukan waktunya, kalau emang rejeki gak bakal kemanalah” ujar Udin yang mencoba menenangkan hati Kanya sembari bersiap mengantarkan Kanya pulang.
“Eh en-nneng, udah makan belum? Mampir bentar makan yah, abang yang traktir” celetuk Udin dengan gugup.
“Aduh, dalam rangka apa nih bang? Boleh deh bang, Kanya juga laper hehehe”
“Ah dalam rangka menghibur hati Kanya aja” Udin lalu mencari tempat makan yang tepat untuk mereka berdua, ini momen yang jarang-jarang didapatkan Udin, hatinya berbunga-bunga.
Pilihan Udin jatuh pada rumah makan padang Takana Juo yang tak begitu jauh dari lokasi audisi Kanya. Mereka berdua makan dengan lahapnya hingga keadaan berubah tak menyenangkan ketika Udin menyatakan cintanya secara mendadak kepada Kanya yang seketika itu pula Kanya menolak cinta Udin dengan halus. Baik Kanya maupun Udin merasa canggung. Hingga pukul 21.30, mereka pulang dari rumah makan tersebut dengan Udin yang jalan tertunduk kecewa. Mereka pulang, Kanya harus pulang.
****
Minggu pagi 16 Oktober 2011, warga Koja, Jakarta utara dikagetkan dengan penemuan mayat seorang wanita setengah telanjang dalam sebuah kardus televisi. Wanita itu meninggal dengan keadaan menggenaskan dimana tubuhnya penuh luka tusuk di punggung, di perut dan di iga wanita tersebut. Bagian kelamin wanita tersebut terdapat cairan mani sehingga polisi yang memeriksa keadaan menyimpulkan bahwa wanita tersebut diperkosa terlebih dahulu hingga akhirnya dibunuh. Polisi masih terus menyelidiki pelaku pembunuhan. Dari dompet korban ditemukan identitas korban yang menerangkan nama wanita tersebut Kanya. Warga sekitar sendiri tidak mengenal korban yang ketika ditemukan telah meringkuk kaku dalam kardus televisi 29 inch.
Wanita itu adalah Kanya, Kanya cantik yang bercita-cita masuk televisi dengan status selebriti namun malang impiannya tak pernah terwujud, ia hanya mampu masuk kardus televisi dengan status mati tragis.
Jakarta, 25 Oktober 2011

Sabtu, 30 November 2013

Kenalan


“Aku pernah mengenalmu”
“Maaf?”
“Aku pernah mengenalmu, di tempat lain, sudah cukup lama memang”
Perempuan ini menatapku dengan heran. Aku hanya merasa pernah bertemu dengannya, tapi aku tidak mengingatnya persis. Potongan ingatanku secara acak  merekam wajahnya, pada waktu malam hari, ada asap rokok yang memenuhi ruangan, ada bir yang tak henti-hentinya kuminum. Aku ingat, aku sedang mabuk ketika mengenalnya, tapi ia tak mungkin ikut mabuk waktu itu. Kenapa perempuan ini tak mengenalku?
Kami berdua duduk berhadapan, di dalam kereta menuju Jakarta. Kebetulan, takdir atau apalah itu namanya mempertemukan kami kembali. Ia tak mengenalku atau barangkali ia lupa pernah mengenalku. Aku pernah mengenal perempuan ini, tapi aku sendiri tidak begitu yakin. Ingatanku ini seperti seluloid yang terpotong-potong, ada gambar bergerak yang terpisah-pisah padahal satu kesatuan, tugasku untuk mengurutkannya. Aku mulai dengan menyamakan wajahnya.
Aku memperhatikan wajahnya, mulai dari keningnya, alisnya, lekuk matanya ke hidungnya, kantong matanya yang samar menghitam. Lanjut lagi kuperhatikan hidungnya dan jerawat kecil yang tumbuh di pipinya. Bibirnya tak pakai lipstik hari ini. ia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela, rishi tampaknya kuperhatikan begitu lama. Kureka ingatanku, wajahnya mirip, yang tak serupa malam itu ia memakai lipstik merah dan jerawat belum tumbuh di pipinya. Ah iya, ia perokok berat katanya waktu itu.
“Merokok mbak?”
“Maaf tidak mas, kenapa?”
“Tidak apa-apa”
Aih berbeda lagi, perempuan yang ini tidak merokok sedang perempuan malam itu mengaku perokok berat. Lagian bodohnya aku menanyakan apakah ia merokok atau tidak, konyol sekali, toh dalam kereta ini sepanjang gerbongnya dilarang merokok. Tentu ia jawab ia tidak merokok, tidak mungkin merokok disini dalam kereta ini. Aku tetap yakin aku pernah mengenalnya di suatu malam, ada asap rokok yang memenuhi ruangan dan bir yang tak henti-hentinya kuminum. Aku coba mengingat-ingat lagi, dimana kami bertemu dan kenapa aku bisa bertemu sebelum akhirnya mengenalnya. Ruangan itu penuh asap rokok, pastilah sempit dan tak banyak jendela. Aku meminum bir tak henti-henti, pastilah tempat itu tempat minum-minum. Café atau bar barangkali.
Kereta terus berjalan, sesekali mampir di stasiun kecil menaik turunkan penumpang. Sementara itu hari sudah gelap, aku masih mereja ingatan. Seharusnya mudah saja, apabila ia tak mengenalku, kenalan dari awal lagi tetapi ingatanku memaksa untuk dibuktikan. Lagipula perkenalan kami dulu begitu hangat dan romantis. Ah ya romantis, kami berkenalan dalam suasana romantis diluar kondisi ruangan yang sempit dan penuh asap rokok. Diluar keadaanku yang mungkin saja mabuk pada waktu itu, tetapi perkenalan kami romantis. Aku ingat aku jatuh cinta padanya setelah itu.
Perempuan dalam ingatanku sedang memainkan piano, aku datang menghampirinya. Menikmati permainan pianonya, menikmati malam itu, menikmatinya dari jarak yang lebih dekat. Aku memegang gelas bir penuh, ia asik saja memainkan terus piano itu tak peduli tempat itu ramai dan bising. Aku berdiri mendekatinya, menunggunya selesai bermain lalu mengajaknya berkenalan. Ia memainkan Nocturno Op. 9 No. 2 karya Chopin, ia memainkannya nyaris sempurna. Aku mengenalnya dan mengingatnya karena itu.
“Kamu seorang pianis?” tanyaku
“Ah bukan pianis, aku memang suka main piano”
“Aku mengenalmu saat kamu memainkan Chopin, di satu malam, aku lupa tempat dan tepatnya”
“Benarkah? Aku lupa barangkali, maaf”
Potongan-potongan ingatanku perlahan tertata kembali, seluloid itu tersambung membentuk gambar bergerak perkenalanku pertama dengan perempuan ini. Ia mungkin memang bukan pianis, setidaknya gambaranku sama tentang perempuan yang memainkan piano. Kereta yang membawa kami terus bergerak menuju Jakarta, langit semakin gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Aku tersenyum kepadanya, begitu yakin bahwa kami pernah berkenalan sebelumnya. Ia balik tersenyum padaku.
Keretaku berhenti di stasiun Cirebon, untuk waktu yang lama kali ini. Penumpang baru naik menggantikan penumpang-penumpang yang turun di Cirebon, perempuan itu ikut turun, kami belum sempat bertukar nama sedang aku lupa namanya. Perempuan yang lain menggantikan tempat duduknya. Rambutnya pendek, memakai kacamata bulat, duduk dan tersenyum kepadaku. Rasanya aku juga pernah mengenalnya.

Manado, 30 November 2013

Jumat, 06 September 2013

Kalau Mati Jangan Disini


“Kalau mati jangan disini dong!”
Ibu mengeluhkan mayat yang telungkup kaku di bawah pohon mangga di halaman rumah kami. Mendadak suasana pagi hari yang biasanya tenang menjadi gaduh. Sedang ayah mencari-cari karung goni untuk membungkus mayat itu, Pak Ketua RT datang menyempil dari kerumunan warga yang mengelilingi rumah kami untuk melihat mayat tersebut. Bau busuk mulai menyeruak dan bergaya serupa, semua orang menutup hidungnya masing-masing. Aku tidak lagi selera makan pagi ini.
Barangkali mayat itu sudah ada dibawah pohon mangga halaman rumah kami sejak malam tadi, ketika kami semua sudah tidur pulas. Tubuhnya membengkak akibat kebanyakan menyerap air hujan yang turun semalaman dan juga tubuhnya sudah berubah warna jadi biru kehitaman. Yang membuatku heran, juga membuat semua orang heran pula, siapa gerangan mayat ini? siapa dia sewaktu hidupnya?
Wajahnya penuh bekas pukulan, namun senyum mengatup mulutnya. Dadanya tembus oleh peluru. Pada kedua Lengannya dipenuhi tato yang tersamar oleh biru kehitaman yang menjadi warna tubuhnya kini. Dugaan Pak Ketua RT, lelaki ini adalah seorang preman yang ditembak mati petrus tadi malam dan dibuang disini ketika semuanya sudah tidur. Okelah kalau begitu, sebagaimana hampir keseluruhan warga mengamini dugaan Pak Ketua RT termasuk bapak dan ibuku yang masih kerepotan mengurusi mayat ini. maka bolehlah kita sahkan mayat ini semasa hidupnya adalah seorang preman yang tadi malam dibunuh petrus sebagai bagian dari operasi clurit guna membasmi preman. Anak-anak yang jadi penonton berteriak: Hore! Ada preman mati satu lagi!
Pak Ketua RT bilang, bapak dan ibuku seharusnya bangga sudah kebagian andil dalam pembasmian preman dengan menyediakan halaman rumah sebagai tempat pembuangan mayat preman. Bapakku terlihat tersenyum bangga mendengar ucapan Pak Ketua RT. Ibu masih sibuk mengatur pemuda-pemuda kampung ini untuk membantu memasukkan mayat dalam karung goni. Dengan adanya operasi clurit ini, negara termasuk kampung ini akan menjadi lebih tenteram dengan ketiadaan preman yang berkeliaran lagi, lanjut Pak Ketua RT.
Entahlah benar atau tidak ucapan Pak Ketua RT tersebut, bagiku kehadiran mayat itu hanya mengacaukan dua hal pagi ini. pertama mengacaukan selera makan pagiku dan kedua mengacaukan pikiranku. Melihat mayat itu aku terbayang ada anak dan istri yang masih menunggu pulangnya lelaki ini. mungkin satu piring nasi putih mengepul masih tersisa untuk jatah lelaki ini kalau-kalau nanti pulang kelaparan.
...dor, dor, dor! Dengan hilangnya nyawa preman ini maka Pak Ketua RT serta warga kampung ini berharap lenyaplah keresahan masyarakat. Aku tak kenal wajah lelaki ini, setahuku yang meresahkan masyarakat kampung ini justru ketua RT itu sendiri dengan serangkaian proposal sumbangan yang disebar kerumah-rumah.
Dalam beberapa menit kemudian, mayat itu sudah masuk karung goni masih dalam keadaan tidak karuan. Karung itu diarak pemuda-pemuda dan diikuti seluruh warga. Anak-anak masih berlompat-lompat menggapai karung goni tersebut. Bapak-bapak kampung ini berteriak mengutuki mayat lelaki tersebut sedang bagian ibu-ibu yang menyumpahi mayat tersebut, mereka sebut lelaki itu tak akan masuk sorga. Sedang ibuku berteriak sendiri:
“Kalau mati jangan disini!”

Sabtu, 20 Juli 2013

Wanita Pemakai Jaket Adidas Merah Jambu


Yeni tak pernah tahu kalau dalam hidupnya ia harus mendapatkan pengalaman yang begitu mengguncang hidupnya. Sebagai gadis desa berparas ayu dan berpikir polos, ada kalanya hal aneh menghampiri dan akan menjadi pelajaran gratis untuk Yeni dalam hidupnya, tapi peristiwa yang satu ini sungguh berbeda.
Empat tahun lalu, bersama Mbak Citra, Yeni naik kereta ekonomi dari Klaten ke Jakarta untuk mengadu nasib. Setelah beberapa kali berhasil lolos dari operasi yustisi, Yeni kini bolehlah dibilang orang ibukota, sebagaimana sebutan orang-orang kampungnya. Yeni sekarang tinggal di rumah Nyonya Rosa yang memiliki pagar tinggi, sebagai pembantu rumah tangga orang kaya.
Sebagai pembantu di rumah Nyonya Rosa yang memiliki pagar tinggi, hidup Yeni dapat dikategorikan tentram dan jauh lebih baik daripada hidup dikampungnya dulu. Diluar jatah makan tiga kali sehari, setiap bulannya Yeni masih juga dikasih duit sama Nyonya Rosa satu juta lima ratus ribu rupiah. Setengah dikirimnya kekampung dan setengahnya lagi ditabungnya sendiri, barangkali cukup buat modal kawin dengan bang Tejo, supir bapak mantan mentri sosial. Sampai tibalah waktu, sesuatu mulai datang mengganggunya hingga akhirnya akan mengguncang jiwanya begitu hebat.
Ada seorang wanita berambut keperakan, memakai sepatu kets bewarna perak dan mengenakan jaket merk adidas warna merah jambu yang saban pagi selalu lari pagi melewati rumah Nyonya Rosa yang memiliki pagar tinggi. Pertama kali dan berikut-berikutnya Yeni selalu melihat wanita itu ketika hendak beli sayur sawi tiga ikat dan kebutuhan dapur lainnya dari tukang sayur genit yang kerap goda Yeni. Wanita ini eksentrik dan sangat menarik perhatian Yeni, tergoda rasa ingin tahu tinggi, Yeni tanyakan perihal Wanita itu ke tukang sayur, tukang sayur geleng kepala tidak tahu. Yeni sms bang Tejo, cuma dibalas singkat: tidak tahu. Huft, apabila bang Tejo tidak tahu barangkali si Surip, tukang kebon Nyonya Rosa yang tahu. Penasaran ia pendam dulu hingga siang nanti Surip datang kerja.
“Rip, kowe tau ndelok wong wedok yang senang lari pagi di komplek ini gak? Aku tadi pagi lihatnya”
“Wah yo akeh to Yen, sing ndi sik?”
“Dia pakai sepatu kets warna perak dan jaket merk adidas merah jambu, warna rambutnya keperakan. Wajahnya gak gitu jelas tadi”
“Wah rika tenanan ndelok uwong kae? … “ Surip terdiam dan melengos pergi, jalan tertunduk menuju kebon depan rumah, meninggalkan Yeni dalam tanda tanya besar.
Yeni sadar bahwa ada suatu misteri tentang wanita ini, tengkuknya merinding hebat dan pikirannya mendadak kalut, adakah ia melihat yang bukan-bukan? Ia coba tenangkan diri dan teringat kalau Mbak Citra dulu sempat lama kerja jadi pembantu juga di komplek ini maka segera saja ia ingin telpon mbak Citra. Tapi Nyonya Rosa memanggilnya dan menyuruhnya bantu-bantu mempersiapkan ruang tamu untuk menyambut teman-teman suami Nyonya Rosa, ia urungkan niatnya telpon mbak Citra sebentar.
Selepas bantu Nyonya Rosa mempersiapkan ruang tamu, Yeni punya waktu bebas, Tuan dan Nyonya pasti akan sibuk sekali bercengkerama dan sebagaimana kebiasaan, Nyonya Rosa yang akan turun tangan langsung untuk melayani tamu-tamu Tuan, tidak boleh Yeni, takut kalau Yeni digoda teman-teman suami Nyonya Rosa yang genit-genit dan itu akan buat Nyonya Rosa merasa Yeni telah mengalahkan kecantikannya. Memanfaatkan waktu senggang ini Yeni pun menyelinap keluar menemui bang Tejo di rumah mantan mentri sosial yang tidak jauh dari sini, mau menceritakan soal rasa penasarannya atas wanita pemakai jaket adidas merah jambu yang dilihatnya setiap pagi, sekaligus barangkali bang Tejo ada waktu untuk bercinta dengan Yeni.
“bang Tejo, aku penasaran ihh sama wanita yang sering lari pagi depan rumah itu” curhat Yeni sambil bergayut manja menempelkan buah dadanya ke lengan Tejo.
“ah Yen, jangan terlalu kau pikirkan, barangkali dia cuma wanita biasa, banyak kan sekarang lansia yang rajin lari pagi”
Yeni teringat sesuatu, ia tadi hendak telpon mbak Citra, buru-buru ia minta izin Tejo untuk keluar sebentar kebawah pohon pisang menelpon Citra. Alih-alih bicarakan wanita pemakai jaket adidas merah jambu yang misterius, Yeni dan Citra justru nostalgia tukar kangen dibumbui gosip soal asmara Risma, tetangga Citra dan juga sepupu Yeni, yang konon kabarnya hamil diluar nikah. Tidak terasa hampir satu jam mereka mengobrol lewat telpon. Udara malam yang dingin menembus tulang Yeni dan suasana dibawah pohon pisang buat Yeni sadar takut, suasana begitu mencekam, bergegas ia sudahi telpon mereka dan masuk menemui Tejo dan alangkah terkejut juga tergoncangnya Yeni.
Yang ia lihat adalah bang Tejo yang disayanginya bermesraan dengan wanita yang sedang mengenakan jaket adidas warnah merah jambu. Ia terkejut bahwasanya baru ditinggal sebentar, Tejo begitu gampangnya main gila di depan Yeni dan yang membuat ia begitu terguncang hebat adalah kenyataan untuk mengetahui wanita pemakai jaket adidas warna merah jambu itu adalah Nyonya Rosa, yang memiliki pagar tinggi, majikannya sendiri.

Bandung. 20 Juli 2013