Tampilkan postingan dengan label cerita-cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita-cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

Tentang Menunggu

Apa yang salah dengan menunggu? Kalau melihat yang belakangan kejadian maka menunggu rasanya bukan perbuatan yang salah, tidak juga sia-sia. Tentu ada syarat mutlak untuk menunggu yang tidak sia-sia: jangan menunggu seperti Vladimir maupun Estragon. Mereka berdua terlalu bodoh untuk terus menunggu datangnya Godot, bahkan muka orang yang ditunggu saja mereka tidak tahu persis. Sudahlah, itu pelajaran penting soal menunggu yang bisa diambil dari Waiting for Godot, drama karya Samuel Beckett.
Bagi orang-orang yang sedang menunggu, termasuk saya di dalamnya, kejadian belakangan yang saya maksud sungguh menginspirasi. Kejadian tersebut bisa meneguhkan orang-orang untuk terus menunggu. Ada dua kejadian penting di minggu lalu.
Kejadian penting pertama adalah rilisnya mini-drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) setelah 12 tahun berselang. Sungguh pun siapa yang nyana ada lagi, kalau bisa disebut sequel, dari film legendaris itu. Sebelumnya memang ada versi sinetronnya, namun susah masuk hitungan bagi penggemar yang tergila-gila film tersebut. Bayangkan legendarisnya film tersebut bisa mengubah selera gadis-gadis SMA untuk tergila-gila pada lelaki yang misterius, sebelumnya pastilah yang bertubuh atletis atau bercita rasa musik tinggi. Atau membaca buku bagi seorang pria adalah kegiatan yang juga keren untuk dilakukan. Sayang sekali jaman cepat berlalu, ketika saya SMA sudah beda lagi seleranya.
Mini-drama tersebut membius orang-orang yang menjadi saksi mata hebohnya film tersebut. Tidak sedikit tentunya orang yang mendaulat film ini menjadi film Indonesia terbaik dan mendaulat serta Dian Sastro menjadi wanita tercantik di negara ini. Saya sendiri termasuk orang-orang tersebut, selama 12 tahun ini pun saya menonton film ini berulang-ulang, terutama 4 tahun belakangan ketika saya mendapat kopian filmnya. Tidak sadar saya menunggu rilisnya sequel ini, haru biru ketika menonton mini-drama tersebut. Namun tidak saya sendiri yang menunggu, Cinta pun ternyata menunggu Rangga pulang atau sekadar memberi kabar selama 12 tahun itu. Wow! Ini baru pelajaran berharga tentang menunggu. Ternyata bisa juga membuahkan hasil, sebagai bukti Rangga pulang ke Indonesia, memberi kabar pada Cinta dan mengajaknya untuk bertemu kembali meski cuma punya waktu 2 hari. (bangsat juga ini si Rangga)
Meskipun kisah Cinta yang menunggu Rangga pulang itu luar biyasa, kisah itu masih kalah banyak dengan kisah yang sesungguhnya terjadi minggu lalu. Kejadian kedua yang menjadi inspirasi adalah Persib yang menunggu 19 tahun lamanya untuk menjadi juara lagi. Persib selama 19 tahun ini bukan tim enteng, mereka selalu menjadi lawan berbahaya setiap musim setiap tahunnya. Secara finansial misalkan, disaat tim lain kembang kempis menghidupi diri, Persib masih bisa dibilang stabil. Jangan lupa bicara soal dukungan, bobotoh selalu loyal untuk mendukung mereka. Saya tahu rasanya Bandung yang senyap ketika Persib main, hampir semuanya menonton langsung maupun tidak langsung mereka berlaga, Namun apa daya, tidak pernah sekalipun mengecap gelar juara hingga hari jumat tanggal 7 November di stadion Jakabaring, mereka mampu membuktikan diri. Tidak sia-sia menunggu menjadi juara.
Tentang menunggu, jauh sebelum minggu lalu Florentino Ariza sudah membuktikannya dalam novel Gabriel Garcia Marquez, Love in the time of Cholera. Sama seperti AADC sebenarnya, memang cuma fiksi namun dapat menjadi inspirasi juga dalam soal tunggu-menunggu. Dalam kisahnya diceritakan Florentino menunggu 51 tahun 9 bulan dan 4 hari lamanya untuk mendapatkan kembali cinta Fermina. Meskipun ada 622 perempuan yang pernah singgah dalam hidup Florentino, cinta Fermina lah yang selalu ia tunggu. Menunggu memang butuh pengorbanan, waktu yang terutama, tapi pertanyaannya adalah apakah pantas atau tidak untuk menunggu. Cinta, Persib maupun Florentio yakin, menunggu adalah suatu pekerjaan pantas untuk dilakukan. Persib tidak akan pernah tahu sebelumnya bahwa mereka akan juara setelah 19 tahun atau Cinta yang menunggu 12 tahun  atau Florentino tidak akan pernah tahu kalau Fermina akhirnya bisa luluh hatinya setelah 51 tahun. Mereka semua tahu jawaban yang mereka tungu karena memang mereka menunggu itu.
Sekarang giliran saya sendiri, setelah mendapat pelajaran-pelajaran demikian untuk melanjutkan menunggu. Apakah saya akan punya pacar setelah 23 tahun?


Pontianak, November 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Tentang Ulang Tahun

Pertengahan bulan Oktober, Clara berusia tepat 23 tahun, lebih tua 2 bulan dariku. Suatu hal yang aneh rasanya menyadari Clara yang akan berusia 23 tahun ini. Aku hanya merasa satu-satunya hal yang masuk akal, baginya atau bagiku, adalah berusia diantara 21 dan 22. Seandainya dapat begini; ketika berusia 21 lalu kemudian berulang tahun untuk usia ke 22, setelah 22 kembali ke usia 21. Namun kali ini ia akan berusia 23 dan nanti di bulan Desember, aku juga sama. Ya, memang hanya orang mati tetap di usia 20 selamanya.
Hujan turun menyambut hari ulang tahun Clara, namun bagaimanapun aku sudah berjanji untuk datang ke rumahnya. Sepulang kerja aku menyempatkan diri untuk mampir membeli kue ulang tahun untuknya di toko roti yang tidak jauh dari kantorku. "Kita harus membuat perayaan!" kataku. Aku juga akan menginginkan hal yang sama jika aku berada diposisinya saat ini. Pasti sebuah hal yang sulit untuk berulang tahun sendirian. Pukul dua belas kurang, aku sudah memasang lilin diatas kue ulang tahunnya, menyalakannya, lalu mematikan lampu, aku memang memiliki bakat untuk merayakan ulang tahun. Clara sudah menyiapkan empat kaleng bir. Kami minum, makan kue ulang tahun tersebut, dan menikmati perayaan ulang tahun yang sederhana.
"Entahlah, aku hanya merasa tolol berusia 23" katanya. "Aku merasa belum siap. Rasanya aneh, seperti ada orang yang mendorongmu dari belakang”
"Aku punya dua bulan untuk bersiap-siap untuk itu" kataku sambil tertawa.
"Kau sangat beruntung masih 22!" Clara mengatakan dengan nada iri.
Selesai menyantap kue ulang tahun, kami membersihkan meja dan aku duduk di lantai, Clara tiduran diatas kakiku sambil mendengarkan musik dan minum sisa bir yang ada. Clara luar biasa cerewet malam itu. Dia bercerita tentang masa anak-anaknya, sekolahnya, keluarganya dan apa saja yang ada diingatannya. Dengan telaten ia menceritakan semuanya, aku kagum pada kekuatan ingatannya. Hujan kembali turun melewati jendela. The Doors menyanyikan People Are Strange untuk kedua kalinya. Waktu bergerak sangat perlahan. Clara terus berbicara sendiri, merangkai ingatannya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi, terus terang aku sudah mulai gelisah. Clara berbicara tak henti selama lebih dari dua jam. Aku mulai mengantuk dan menunggu kesempatan memotong pembicaraannya. "Waktunya untuk pulang," kataku sambil melihat jam tanganku. "Sudah terlalu larut, kau pun harus tidur"
Ucapanku barusan tampaknya tidak mengusiknya sedikit pun, atau mungkin dia memang sengaja tidak memperdulikannya. Sejenak ia memang terdiam, tetapi kemudian clara melanjutkan ceritanya. Aku menyerah, memperbaiki posisi dudukku agar terasa lebih nyaman, kakiku mulai kesemutan memangku kepalanya. Aku membuka kaleng bir kedua.
Aku mulai berpikir tampaknya lebih baik membiarkan dia berbicara. Kantuk dan bosan biar kulawan sendiri.
Tidak begitu lama setelah memperbaiki posisi dudukku, Clara berhenti bicara. Kata-kata pada kalimat terakhirnya tidak begitu jelas kutangkap, semperti mengambang di udara begitu saja. Aku rasa dia memang tidak benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Ingatan yang panjang lebar ia ceritakan menghilang tiba-tiba, dan mungkin akulah orang yang telah menghilangkannya. Ucapanku sepertinya baru mengusiknya sekarang, butuh waktu untuk mencernanya dan kemudian mencabut ingatannya.
Kami berdua sama-sama terdiam sapai bibirnya sedikit terbuka, ia memalingkan wajahnya namun setengah dari pandangannya tetap tertuju padaku. Menghakimiku atas dakwaan telah menghilangkan ingatannya yang akan panjang lebar ia ceritakan. Dia tampak seperti jam weker yang dicabut baterainya dengan paksa. Matanya tiba-tiba terlihat mendung, membran tipis terlihat dimatanya memaksa menahan air mata .
"Maaf mengganggu," kataku, "tapi sudah malam, dan ..."
Tangis tumpah dari matanya, membasahi pipinya dan terpercik ke bajunya. Setelah air mata pertama tumpah, air mata berikutnya mengalir tak putus-putus. Clara mulai membungkuk ke lantai, kedua telapak tangan menutupi wajahnya dan menangis. Aku masih bisa mendengar suara tangisnya meski ia sudah menahan dengan kedua telapak tangannya. Seumur hidup aku belum pernah melihat orang menangis begitu hebat. Aku coba untuk merangkulnya.
Kemudian, semua terjadi begitu alami, aku membawanya ke dalam pelukanku. Aku merasakan tubuhnya yang gemetar karena menangis sampai ia mulai menangis tanpa suara. Kemejaku basah oleh air mata dan dan dadaku terasa hangat karena nafasnya. Tanganya kini mulai melingkari punggungku. Tangan kiri kugunakan untuk menopang badannya, sedang tangan kanan kugunakan untuk membelai lembut, rambutnya yang lurus. Aku Menunggu. Dengan posisi seperti itu, aku menunggu untuk Clara berhenti menangis. Dan aku menunggu, tetapi Clara menangis tak henti.
Aku tidur dengannya malam itu. Apakah hal itu pantas untuk dilakukan? entahlah. Aku rasa aku tidak akan pernah tahu. Pada saat itu, hanya itu yang bisa kulakukan. Ketika itu Clara berada dalam puncak stres dan kebingungan, dan ia ingin aku menenangkannya. Aku mematikan lampu dan memulainya, dalam satu waktu, dengan sentuhan yang paling lembut yang bisa aku berikan, aku melepas seluruh pakaiannya.
Lalu aku melepas pakaianku juga. Aku masih merasa hangat, meski hujan bulan Oktober turun malam itu, aku rasa ia pun merasa hangat dan kami tetap tidak menggunakan sehalai pakian pun tanpa merasa dingin. Kami menjelajahi tubuh satu sama lain, di dalam kegelapan tanpa berkata-kata. Aku menciumnya dan memegang dadanya dengan lembut, ia membangkitkan gairahku.
Aku mulai bercinta dengannya, Clara mengerang kesakitan. “Apakah ini yang pertama kali?” Aku menanyakannya dan ia mengangguk. Sekarang giliranku berada pada puncak kebingungan. Selama ini aku berpikir Clara sudah tidur dengan kekasihnya. Aku terus masuk lebih dalam lalu berhenti untuk beberapa waktu, tanganku memegang tubuh Clara, tanpa bergerak. Dan kemudian, sesaat ia mulai tampak tenang, aku membiarkan diriku untuk bergerak lagi ke dalam dirinya, ada waktu yang cukup lama untuk mencapai klimaks, dengan gerakan lambat dan lembut. Tangannya menggenggam lenganku begitu erat, hingga teriaknnya akhirnya memecah keheningan. Teriakan orgasme paling menyedihkan dari yang pernah kupernah dengar.
Ketika selesai kami bercinta, aku bertanya mengapa ia belum pernah tidur dengan kekasihnya sampai saat ini. Pertanyaan tolol yang keluar begitu saja. Ia terdiam sejenak mendengar pertanyaanku itu dan mulai menangis lagi tanpa suara. Aku mengambil selimut dilemarinya, menyelimuti hampir seluruh tubuhnya sementara ia masih meringkuk menangis. Aku menyalakan rokokku, duduk di samping Clara dan memandang hujan bulan Oktober.
Hujan berhenti ketika pagi datang. Clara tidur memunggungiku. Mungkin ia tidak tidur sama sekali, tubuhnya sekarang tampak kaku, seperti beku. Aku mencoba beberapa kali berbicara dengannya, tapi dia menjawab atau bergerak sedikit pun. Aku menatap lama bahunya, tapi pada akhirnya aku bosan dan sia-sia lalu aku memutuskan untuk bangun.
Lantai masih penuh dengan pakaian yang berserakan, gelas, kaleng-kaleng bir dan puntung rokok. Kue ulang tahun yang kubawa masih bersisa, namun tak lagi menarik untuk dimakan. Aku merapikan barang-barang yang tercecer sebisaku dan minum sambil lalu memerhatikan kamar Clara. Pada mejanya terdapat kamus dan panduan berbahasa Perancis. Di dinding atas meja itu tergantung kalender, tanpa ilustrasi atau foto apapun, hanya jumlah hari-hari bulan. Ada tumpukan kertas kosong di bawah meja. Aku melihat ada buku catatan disana namun tak berani untuk membacanya.
Aku mengambil pakaian dan segera berpakaian. Dada kemejaku masih lembab, sedikit basah oleh tangis Clara. Aku masih dapat mencium bau Clara. Di sampingnya aku mengambil secarik kertas dan menulis: "Aku ingin bicara panjang denganmu apabila kau sudah merasa tenang. Hubungi aku. Selamat Ulang Tahun". Aku melihat bahu Clara sepnta, melangkah ke luar dan diam-diam menutup pintu.



-       Diterjemahkan sesuka-suka hati disertai penyesuaian sana sini dari Novel Haruki Murakami, Norwegian Wood (English Version, translated from Japanese by Jay Rubin) halaman 45 sampai dengan 50.

Kamis, 09 Januari 2014

Tentang Rencana Berpacaran Tahun Ini


Tahun 2014. Saya berencana untuk memiliki pasangan atau pacar lebih tepatnya untuk tahun ini. Apabila sampai bulan Oktober tahun ini belum juga, semoga saja tidak, maka tepat 23 tahun saya jomblo. Menyedihkan? Tidak juga, saya menikmatinya dan banyak keuntungan menjadi jomblo. Tetapi tahun ini saya benar-benar bermaksud memiliki pacar. Tidak bermaksud sexist, misoginis, homophobia atau diskriminatif, saya masih straight untuk orientasi seksual, artinya saya akan mencari pacar seorang perempuan. Tentu, meski tidak pernah berpacaran sebelumnya, saya masih memiliki kriteria perempuan tertentu untuk saya jadikan pacar.
Bagaimanapun menurut yang saya amati, untuk berpacaran ada baiknya yang benar-benar sesuai dengan selera, seperti memilih pekerjaan atau membeli baju. Kira-kira yang menjadi kriteria berdasarkan selera saya itu seperti ini; 1) memiliki senyum yang manis dan ceria, karena 2) saya terbiasa bahagia, maka pacar saya itu pun harus bahagia, setidaknya terlihat bahagia dari senyumnya. 3) memiliki selera musik yang baik, dan yang lebih baik lagi 4) dapat memainkan alat musik, entah gitar, piano, ukulele atau apapun itu, sehingga 5) saya dan pacar saya dapat membuat duo musik!
Nah! Konsep duo musik ini adalah kesukaan saya, rasanya seorang pria dan seorang perempuan yang memainkan musik bersama-sama itu klop sekali. Saling melengkapi, ada harmonisasi dan manis, seperti kriteria pertama saya. Seandainya pun jadi berpacaran, kado pertama saya adalah mixtape dari duo kesukaan saya, Beberapa duo yang saya sukai dan sedang saya dengarkan itu kira-kira sebagai berikut:
  •  The Honey Trees, duo dreampop asal Amrik ini setahu saya baru merilis 1 EP; Wake The Earth (2009). Dari channel Youtube yang bersangkutan, tahun 2012 mereka membuat album, sayang sekali saya berlum mendapatkan lagu atau video di album tersebut.
  •  Beach House, lagi-lagi dreampop, Victoria Legrend dan Alex Scally sudah merilis beberapa EP dan 4 album; Beach House (s/t 2006), Devotion (2008), Teen Dream (2010) dan Bloom (2012).

  •  Adam Green & Binki Shapiro, Anti-Folk Hero saya, Adam Green, di awal 2013 menggandeng Binki Shapiro  untuk membuat album yang juga dinamakan Adam Green & Binki Shapiro. Yah sebenarnya apapun bentuknya asal yang membuat Adam Green maka saya akan menyukainya.

  • She & Him, pria mana yang tidak terpesona indie darling seperti Zooey? Duo indie pop ini, sudah merilis 4 album, termasuk 1 album natal. Volume One (2008), Volume Two (2010), A Very She & Him Christmas (2012) dan yang terbaru Volume Three (2013).

  • Endah N Rhesa, saat pertama kali melihat pertunjukan live mereka, saya langsung jatuh cinta, pada lagu-lagunya. Sudah 4 album yang mereka rilis, diluar 1 repackaged.


Sebenarnya ada banyak lagi musisi yang bermain dalam konsep duo yang saya sukai dan dengarkan lainnya, tetapi itu nanti saja, spesial buat pacar saya kelak. Doakan saja benar-benar terwujud rencana saya kali ini.

Rabu, 14 Agustus 2013

Berwisata Ke Kebun Binatang Surabaya


Saat diberitahu mendapat tugas ke Surabaya untuk sebulan, yang pertama terlitas dalam pikiranku adalah mengunjungi Kebun Binatang Surabaya atau yang biasa disebut KBS. Beberapa waktu yang lalu, KBS menjadi sorotan publik, baik di jejaring sosial, perbincangan di televisi bahkan kabarnya menarik perhatian internasional. Entahlah waktu itu aku hanya baca-baca berita terkait itu secara sekilas, namun yang pasti KBS adalah tempat pertama yang kujadwalkan untuk berakhir pekan pertama selama di Surabaya.
Sabtu pagi, sekitar jam delapan, dengan naik angkutan umum aku berangkat ke KBS, bermodal petunjuk arah jalan dari teman sekantorku. Jaraknya lumayan jauh dari tempatku tinggal sementara, sekitar 30 menit perjalanan menggunakan angkutan umum. Turun di terminal Jayabaya, jalan kaki sedikit menuju lokasinya, tidak jauh kali ini. letak KBS sendiri barangkali bisa disebut di tengah kota, karna tidak terpencil melainkan diantara jalan-jalan raya besar yang ramai lalu lalang kendaraan. Pemandangan pertama sesampainya di KBS adalah patung Suroboyo yang sedang dipugar dan pemandangan kedua adalah tenda yang ada di pelataran pintu masuk KBS yang bertuliskan; Tenda Penderitaan Karyawan KBS. Pemandangan tersebut mengamini tujuanku yang snob yaitu menyaksikan penderitaan. Bahayanya kalau banyak pengunjung dengan niat sama sepertiku.
Sampai di KBS waktu itu sekitar jam sembilan pagi, dan keadaan belum begitu ramai. Setelah membayar tiket masuk 15.000 rupiah, aku masuk ke area kebun binatang. Harusnya aku kecewa, karna niatku yang ingin bertamasya penderitaan tidak sepenuhnya terwujud karna kondisi KBS sendiri sungguh menyenangkan bukan menggenaskan seperti yang kupikirkan sebelumnya. Puji Tuhan, ternyata perkiraanku salah. Meskipun beberapa kandang kelihatannya kusam, tapi masih dapat dikatakan layak huni. Area kebun binatangnya sendiri bersih dan sejuk, tidak ada sampah berserakan seperti yang diberitakan jauh-jauh hari dulu. barangkali pembenahan sudah dilakukan disana sini. Beberapa papan disponsori merk eskrim terpancang bertuliskan bahwa hewan-hewan tersebut telah diberi makan yang baik. Suasana yang menyenangkan.
Puji Tuhan kedua adalah pemugaran terus berjalan, beberapa tukang mengecat tampiln depan kandang agar terlihat segar. Beberapa petugas angkut mengangkut pohon besar barangkali untuk ditanamkan disamping kandang monyet. Dan hewan-hewan yang menjadi penghuni kandang itu sendiri, meski tidak semua kandang berpenghuni, terlihat tidak mengalami lagi penderitaan yang mungkin harus dialami rekan-rekannya yang tumbang duluan dan jadi syahid. Doa berjalanku, semoga saja penglihatanku benar adanya. Aku sendiri tidak mendalami standar yang baik untuk kebun binatang, tapi kesimpulan pertamaku adalah ada perubahan berarti dari berita yang diceritakan.
But good news isn’t news, disamping instalasi tenda penderitaan karyawan, yang tidak tertutup oleh euforia ku terhadap kondisi baik KBS adalah sepinya pengunjung. Ada rombongan turis Jepang, beberapa pasangan muda dan yang paling banyak adalah fotografer atau orang-orang berkalungkan kamera dslr. Untuk kategori pengunjung yang terakhir, bisa jadi berniat sama denganku pada awalnya, wisata penderitaan. Tidak banyak jumlahnya, sampai lewat jam makan siang pun, KBS masih lengang di hari sabtu yang mana berbeda 180 derajat dengan tempat yang kudatangi setelah KBS, Tunjungan Plaza & Ciputra World Mall yang sesak akan pengunjung.
Yah bagaimanapun, kebun binatang memiliki fungsi lain disamping pemberdayaan & pelestarian fauna yaitu tempat rekreasi. Terma tempat rekreasi dengan hewan-hewan dikandangnya sebagai panggung pertunjukan, etis tidak etis. Apabila kurang etis, maka sorotan saya adalah peranannya sebagai ruang publik. Mengutip kata-kata Jerry Meguire; we live in cynically world and we work in business of though competitors. Kompetisinya adalah perebutan daya tarik masyarakat. Mampuslah taman kota, kebun binatang, perpustakaan, dan ruang publik konvensional lainnya kalau kenyataannya ruang kota yang digerus pusat perbelanjaan ternyata terbukti lebih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan ruang. Kebun binatang hadir dengan peran sebagai tempat rekreasi dalam persaingan yang begitu berat melawan digdayanya animo yang terserap oleh pusat-pusat perbelanjaan atau fasilitas-fasilitas komersial rekreatif. Tralalala, kita tidak hanya hidup di dunia yang begitu sinis tapi juga ironis.
Ironis karena, Kebun binatang sesungguhnya lebih edukatif dibandingkan Mall kalah menawan ketertarikan pengunjung. Ironis juga karena kita menyalahkan manajemen buruk yang tidak mampu mengurus hewan-hewan dikandang sedangkan sementara kita memuja keberadaan mall dan mungkin tidak akan peduli sebelumnya dengan keberadaan KBS sampai pada hewan-hewan didalamnya barangkali harus mati atau diberitakan begitu menyedihkan. Namun tidak bisa disalahkan juga, karna masyarakat, yang menjadi konsumen ruang publik sendiri, akan memilih tempat yang lebih menarik untuk memenuhi nafsu konsumsinya. Kenyataannya Mall mampu memenuhinya. Kalau dalam bukunya Stephen Carr dan teman-temannya judulnya Public Spaces, kategori ruang publik sebagai responsive spaces yang mana sebagai pemenuhan kebutuhan publik itu sendiri dapat diakomodasi sempurna oleh Mall tampaknya.
Yang pasti dengan aku melihat ada anak-anak yang tertawa kegirangan melihat ayahnya beri makan kue ke Beruang dan melihat ada Jerapah yang tersenyum kikuk sudah memuaskan nafsu atas konsumsi akan ruang di akhir pekan itu. Juga yang terlebih penting, aku puas dengan kegagalan wisata penderitaan saya dengan tidak lagi melihat ada hewan yang lemas, sekarat ataupun tidak berdaya di KBS. 

Surabaya,   14 Agustus 2013