Di satu sore di kota Pontianak, hujan turun deras.
Hujan kali ini terasa istimewa mengingat beberapa minggu kebelakang, panas
menyengat kota yang dilalui garis imajiner khatulistiwa ini. Hujan kali ini
selain istimewa juga membawa perasaan melankoli. Seandainya saya adalah Sapardi
maka yang terpikirkan adalah untuk membuatkan sebuah puisi yang romantis. Namun
saya bukan Sapardi, untungnya demikian, yang terpikirkan oleh saya adalah
gorengan casu quo bakwan.
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 April 2015
Rabu, 29 Oktober 2014
Tentang Melihat Jokowi
Ada yang menarik dari cerita kedatangan Jokowi ke Kabanjanhe yang datang
untuk mengunjungi pengungsi Sinabung. Dalam berita yang dimuat oleh Kompas.com
menyebutkan seorang pria sampai harus memanjat pohon di lokasi
pengungsian Universitas Karo, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara untuk
bisa melihat secara leluasa melihat Presiden Joko Widodo*. Kisah ini mirip rasanya
dengan kisah Zakeus dalam injil.
Tentu saya bisa dianggap melakukan penistaan agama apabila
menyamakan figur Yesus dengan Jokowi. Selain sosok Yesus yang dianggap suci
bagi banyak orang, Jokowi sepanjang yang saya tahu pun tak penah melakukan
mukjizat, ia tidak bisa mengubah air menjadi anggur atau menghidupkan orang
yang mati menjadi hidup kembali. Jadi mari sekadar menyamakan kisahnya saja.
Dari yang dikisahkan pada Lukas 19:1-10 disebukan, Zakheus seorang kepala
pemungut cukai berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak
berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.Maka berlarilah ia
mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan
lewat di situ. Rasa penasaran Zakeus didorong oleh keinginan untuk memastikan
apakah Yesus yang didengarnya telah melakukan mukjizat itu benar-benar dapat
berbuat demikian. Mungkin pria itu pun demikian, ia ingin melihat Jokowi
langsung dan memastikan Jokowi benar seperti yang diceritakan oleh koran-koran
yang dibacanya atau diberitakan oleh televisi yang ditonton olehnya. Saya tidak
tahu pasti, saya tidak kenal pria yang memanjat pohon itu, Jokowi maupun Zakeus
secara personal, tapi mungkin seperti itulah kira-kira.
Ketika Morrissey datang ke Indonesia 2 tahun yang lalu, saya
juga berdesakan dengan banyak orang untuk sampai ke ujung depan panggung. Saya
ingin melihatnya secara jelas dan memastikan beberapa hal: (1) Morrissey yang
datang adalah orang yang sama dengan gambar yang terpampang di album-albumnya,
(2) aksi panggungnya sedahsyat liputan konser-konsernya sebelum ini dan (3) ia
benar-benar dapat bernyanyi lagu-lagu kesukaan saya. Ya saya, pria di Kabanjahe
tersebut maupun Zakeus ingin memastikan dengan melihat sosok dari yang selama
ini hanya kami dengar atau bayangkan. Banyak harapan yang terkandung dari rasa
penasaran itu, hasilnya? Belum tentu sama, bisa jadi banyak mengecawakan.
Morrissey misalkan, terlalu gendut dan terlihat tua dibandingkan dengan yang
saya bayangkan.
Jokowi bisa dibilang fenomenal, dalam waktu yang bisa
dibilang singkat, ia dapat tampil menjadi figur yang dikagumi banyak orang.
Boleh jadi ia sosok yang disebut from
zero to hero. Kita tidak mengenal Jokowi sebelum ia menjabat walikota Solo,
menjadi Gubernur Jakarta hingga secara dramatis terpilih menjadi presiden
Indonesia ke-7. Dari pemberitaan media kita mengetahui bahwa ia dapat membuat
perubahan bagi negara ini. harapan begitu besar digantungkan padanya. Bahkan
ada yang menganggapnya Satrio Piningit,
okelah itu terlalu mengkultuskannya, intinya kehadirannya sebagai presiden baru
bisa membawa perubahan negara ini menuju lebih baik.
Tentu, Jokowi bukanlah Yesus, Satrio Piningit ataupun
semacamnya. Ia manusia biasa seperti kita. Pada pidato kepresidenan pertamanya ketika dilantik, ia
menekankan semangat untuk bekerja. Katanya pada saat itu: Kerja, kerja, kerja!
Bekerja sebagai pembuktian dari janji-janjinya dan bekerja untuk mewujudkan
visi dan misi yang dibawanya. Ia mengajak untuk sama-sama bekerja, namun
sebagai tentu kita juga berharap pekerjaan kita tidak sia-sia. Pada posisinya
sebagai presiden, kita berharap ia melakukan hal-hal nyata. Bagi para pengungsi
Sinabung salah satunya.
Pria
yang memanjat pohon itu adalah salah seorang pengungsi Sinabung. Mungkin sama
dengan pengungsi lainnya, mereka berharap ada perhatian dan tindakan untuk
menyelamatkan mereka dari penderitaannya. Mereka mungkin berharap dapat
direlokasi dan diberikan pekerjaan untuk tetap dapat hidup. Mereka membutuhkan rumah tinggal dan ladang untuk bercocok tanam. Yang
paling memungkinkan, mereka berharap tidak kecewa dengan presiden baru ini,
tidak kecewa dengan kenyataan misalkan nanti Jokowi tidak sama dengan yang
mereka dengar dan lihat di media massa, tidak sama dengan janji-janjinya ketka
kampanye lalu. Mereka mungkin berhapa bapak presiden mau mengajak pria itu
turun dari pohon -tidak perlu sampai menginap dirumahnya juga- dan memberikan
kepastian untuk dapat mewujudkan harapan-harapannya.
* berita tersebut dapat diakses disini
Jumat, 11 Juli 2014
Tentang Setelah Pemilihan Presiden 9 Juli 2014
Entah bagaimana nasib tim Brazil kedepannya, setelah
dipermalukan Jerman 7-1 di Estadio Mineiras. Kekalahan tersebut tidak saja
menyakitkan dari segi jumlah, tetapi juga mengingat piala dunia tahun ini pun
digelar di Brazil, di rumah sendiri. Mengutip kata David Luiz setelah kekalahan
di semi final tersebut, Brazil telah menderita banyak, ya banyak, piala dunia
yang digelar di Brazil bukan tanpa kontroversi karena hingga menjelang turnamen digelar aksi protes masih terjadi di
Brazil dengan alasan pemborosan sementara banyak rakyat Brazil masih berkutat
dalam kemiskinan. Seharusnya apabila menang, terlebih lagi juara, itu akan
menjadi penyembuhan dari penderitaan rakyat Brazil.
Saya mempertanyakan bagaimana nasib tim Brazil kedepannya.
Sejarah mengatakan,masyarakat Brazil terutama penggemar sepakbolanya, tidak
serta merta bisa menerima kekalahan. Pada perhelatan Piala Dunia 1950, Brazil
juga menjadi tuan rumah piala dunia. Partai akhir yang menentukan Brazil harus
kalah dari Uruguay dengan skor 2-1 yang mana juga berarti menyerahkan gelar
juara ke Uruguay yang sebenarnya sudah hampir digenggam Brazil. Peristiwa yang
dikenal juga dengan istilah Maracanazo
berbuntut panjang, pemberian gelar juara Uruguay dilakukan tanpa adanya
perayaan. Tim yang memperkuat Brazil saat itu tidak bermain untuk Brazil selama
2 tahun dan tidak bermain di Maracana 4 tahun. Seragam kesebelasan Brazil pun
diganti menjadi seperti yang kita kenal sekarang, kuning-hijau. Kabarnya pun
ada yang bunuh diri akibat kekalahan tersebut.
Kembali ke Indonesia, perhelatan yang juga tidak kalah seru
dari piala dunia adalah pemilihan presiden 2014 yang baru saja dilakukan 9 Juli
kemarin. Hasil resmi pemenang pemilihan presiden belum dirilis oleh KPU, namun quick count yang dilakukan sudah
beberapa lembaga riset sudah merilis hasilnya. Hasil ini berbuntut juga,
masing-masing kubu saling klaim kemenangan dengan dasar quick count versi masing-masing yang kebetulan hasilnya
menguntungkan bagi masing-masing kubu. Dari kubu nomor 1, Prabowo-Hatta
mendasarkan hasil quick count dari 4
lembaga riset sedangkan dari kubu nomor 2 mendasarkan hasil quick
count dari 7 lembaga. Sesungguhnya tidak ada yang pasti tetapi quick count selama ini selalu mendekati
yang pasti tersebut, seandainya selisih pun sebutlah itu margin error karena namanya juga hitung cepat yang metodanya hanya
mengambil sample dari beberapa tempat. Anehnya, hasil quick count yang menjadi dasar masing-masing kubu bisa berbeda,
tidak hanya soal angka tetapi juga hasilnya yang menentukan siapa pemenang
pemilihan presiden kali ini.
Sementara salah satu kubu capres-cawapres sudah sujud
syukur atas kemenangannya menurut quick
count, di kubu yang lainnya suda rame-rame kumpul dan ada juga yang konvoi
merayakan kemenangan juga. Sekali lagi, kedua kubu masih mendasarkan pada hasil
quick count, yang bikin mengidik
adalah apabila ahasil real count versi KPU yang mana hasil resmi pemenang
pemilu tidak sesuai dengan ekspektasi dan hasil quick count versinya, akan
bagaimana nantinya. Melihat aksi saling klaim ini, ngeri juga rasanya karena bisa dilihat ada potensi tidak siap untuk
menerima kekalahan.
Masing-masing Capres-cawapres adalah negarawan, sikap
negarawan tersebut yang sangat penting ditunjukkan pada saat-saat seperti ini,
termasuk untuk legowo. Jangan sampai
salah satu kubu menjadi seperti masyarakat Brazil menyikapi Maracanazo, tidak siap dan tidak mau
mengakui kekalahan. Apabila terjadi demikian, akan banyak hal yang harus
dikorbankan; untuk hal ini stabilitas keamanan misalkan. Sedangkan untuk yang
menang, harus ingat falsafah yang pernah dilontarkan R.M Pandji Sosrokartono; Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake
atau menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan. Bagaimanapun pemenang
pemilihan presiden, sebagaimana sesuai konstitusi, baru diketahui setelah
adanya versi resmi dari KPU. Menunggu pengumuman resmi pemenang pemilihan
presiden oleh KPU tanggal 22 Juli nantinya tersebut, mungkin masing-masing
capres-cawapres bisa membahas siapa yang menang, Jerman atau Argentina di final
piala dunia 2014.
Padalarang,
11 Juli 2014
Minggu, 06 Juli 2014
Tentang Pemilihan Presiden 9 Juli 2014
Akhirnya selesai sudah masa kampanye calon presiden, yang
menurut saya begitu menjemukan. Bagi tim sukses, juru kampanye, simpatisan
bahkan calon presidennya sendiri masa-masa kampanye ini mungkin melelahkan.
Saling lempar tuduhan, fitnah satu sama lain atau istilah bekennya black campaign harusnya menguras banyak
emosi dan tenaga mereka. Tetapi itu sudah berlalu, sekarang saatnya menyambut 9
Juli 2014, rangkaian pesta demokrasi di Indonesia, pemilihan presiden.
Bagi saya pribadi, siapapun presiden yang terpilih kelak
bukan persoalan. Sebagai abdi negara -walau statusnya sekarang masih calon-
siapapun presidennya merupakan atasan tidak langsung saya dan bagaimanapun
kebijakan presiden baru kelak selaku pemimpin pemerintahan, saya harus manut, karena saya dihidupi oleh negara.
Boleh jadi karenanya saya dan rekan-rekan seprofesi tidak punya porsi banyak
hak untuk protes atas kebijakan-kebijakan pemerintah nantinya tapi setidaknya masih
punya hak untuk berharap. Hak untuk berharap agar kebijakan yang nantinya
diambil berpihak pada yang baik-baik.
Tentu kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi
dalam 5 tahun kedepan, bahkan untuk harapan dalam 5 tahun nanti saja belum
tentu kita sudah menyusunnya. Untuk harapan-harapan yang nantinya kita taruh ke
pemerintah yang baru dan tentu untuk hal-hal yang berhubungan dengan urusan
pemerintah, kita berharap campur tangan pemerintah untuk memastikan semuanya
sesuai dengan harapan itu sendiri. Semisal saya dalam 5 tahun ini berencana
menikah, tentu saya berharap dalam 5 tahun ini stabilitas ekonomi memungkinkan
bagi saya membentuk sebuah keluarga, atau jaminan kesehatan yang memadai
semisal dalam 5 tahun ini saya sangat membutuhkannya. Bagi orang tua yang
memiliki anak di usia sekolah akan berharap kebijakan pemerintah baru yang akan
memungkinkan anak-anak mereka mendapat biaya pendidikan terjangkau. Begitupun
saudara-saudara di Papua, kebijakan pemerintah baru diharapkan mampu
menyelesaikan permasalahan mereka, ekonomi hingga stabilitas keamanan disana.
Untuk waktu dekat ini, saya berharap presiden yang terpilih
nantinya adalah presiden yang tegas bukan yang tega, presiden yang sederhana
bukan yang lemah, presiden yang mampu mewujudkan harapan yang dijanji-janjikan
semasa kampanye.
Lagian berharap itu perlu juga, dan berharap merupakan
suatu hal yang baik, seperti yang dikatakan dalam film Shawsank Redemption; hope
is a good thing, maybe the best of good things. And no good thing ever dies.
Untuk saya pribadi dengan berharap juga, saya masih mampu memelihara akal sehat
untuk tetap hidup.
Kostan
Baru, Kramat Sentiong, 06 Juli 2014
Langganan:
Postingan (Atom)